• Sel. Jun 2nd, 2026

Serga

Sentra Ragam Berita dan Gagasan

Pelemahan Rupiah Dinilai Berdampak Langsung pada Ekonomi Desa dan Pelaku UMKM

BySerga

Mei 20, 2026

Pangandaran, serga.web.id – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata, menyoroti dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.600 per dolar Amerika Serikat terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan pasar keuangan, tetapi dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Hj. Ida pada Selasa, 19 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan ancaman serius yang tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kecil.

“Rakyat desa memang tidak memakai dolar, tetapi setiap kenaikan kurs terasa di harga sembako dan biaya hidup. Negara harus hadir menjaga stabilitas ekonomi rakyat sampai ke desa,” ujar Hj. Ida.

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi akibat melemahnya rupiah tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga para pelaku usaha kecil dan menengah. Menurutnya, UMKM yang bergerak di sektor makanan berbahan baku impor seperti tahu, tempe, roti, dan produk susu olahan kini menghadapi dilema antara menanggung kenaikan biaya produksi atau menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang melemah.

Hj. Ida menilai kondisi tersebut berpotensi menekan keberlangsungan usaha mikro, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi desa.

“Kenaikan biaya impor dan distribusi berpotensi menekan pelaku UMKM, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi desa,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa ketahanan ekonomi desa sangat bergantung pada kestabilan harga bahan pokok. Karena itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak gejolak ekonomi global terhadap masyarakat di tingkat bawah.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan distribusi pangan berjalan lancar hingga ke pelosok desa, memberikan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil dan koperasi, serta mengoptimalkan peran BUMN di sektor pangan dan distribusi guna menjaga kestabilan harga.

“Negara perlu memastikan stabilitas harga, kelancaran distribusi, dan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar gejolak global tidak berubah menjadi beban ekonomi rakyat di tingkat akar rumput,” tegasnya.

Selain itu, Hj. Ida mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor sejumlah komoditas pangan strategis. Ia menyebut gandum masih sepenuhnya diimpor, kedelai lebih dari 80 persen, bawang putih mencapai 98 persen, susu sekitar 80 persen, serta gula industri yang membutuhkan pasokan 3 hingga 3,5 juta ton per tahun dari luar negeri.

Menurutnya, pelemahan rupiah secara otomatis akan meningkatkan biaya pengadaan berbagai komoditas tersebut dalam waktu singkat. Situasi itu, lanjutnya, diperparah oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada naiknya biaya logistik, premi asuransi pengiriman, dan tarif transportasi laut internasional.

“Ketika rupiah melemah tajam, biaya pengadaan semua komoditas itu langsung membengkak dalam hitungan hari,” pungkasnya. (Hrs)

By Serga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *